9 Sep 2010

Mama, My SUPERhero :')


making-sweetness

Ibuku bukan seorang hero…

Ibuku hanya orang biasa...

Namun dalam hati aku berucap,

“Memang bukan seorang hero, tapi SUPERhero nomor satu di hidupku!”


Mama. Kata pertama yang kuucap di saat ku kecil. Mama, orang pertama yang lega mendengar kelahiranku. Mama, orang pertama yang rela memberikan miliknya demi apapun yang kuinginkan. Mama, orang pertama yang bangga saatku mengenyam pendidikan. Dan Mama, orang yang pertama kusayang.

April 2010, mamaku dibawa ke rumah sakit. Aku menangis, tak tega melihatnya. Namun Mama selalu berkata, “Jangan nangis. Mama nggak apa-apa kok. Pokoknya doakan Mama ya.” Tapi di hari-hari selanjutnya beliau berkata, “Nak, kalau Tuhan berkehendak lain, maafkan kesalahan-kesalahan Mama ya. Mama sayang kok sama kamu dan kakakmu.” Terus terang aku belum siap kehilangan seorang Mama. Aku pun terus berdoa agar Tuhan selalu menyertai Mama di setiap nafasnya.

Esoknya di sekolah, aku menangis terisak. Bagaimana tidak, hari itu banyak beban di hidupku. Aku harus belajar ekstra untuk seleksi OSN Biologi se-Kabupaten. Semalam aku tidak bisa belajar serius karena terus memikirkan Mama. Belum lagi ada seorang temanku (Sebut saja X) yang tiba-tiba memutuskan silaturahmi denganku karena alasan yang sepele.

Semua temanku bingung. Berbagai respect muncul untukku. Semua menanyakan sebabku menangis. Aku tak sanggup menjawabnya. Bahkan Si X ke-GR-an sendiri karena mengira aku menangis karena telah dimusuhinya dan kini sedang merengek meminta maaf darinya. Malah ia memakiku dengan kata-kata kasar. Mendengarnya, aku semakin menangis, juga tambah sakit hati!

“Kamu kenapa, kok nangis? Sabar ya kalau ada masalah,” kata temanku halus. Tiba-tiba aku teringat, ibunya juga sedang sakit. Tapi ia terlihat begitu ceria, tak tampak memiliki beban berat di hidupnya. Seperti tertampar, aku pun sadar. Meskipun memiliki beban berat, seharusnya itu tak mengurangi keceriaan kita.

Aku pun mempersiapkan diri untuk olimpiade keesokan harinya di ruang mamaku dirawat. Aku menyesal, mengapa olimpiade harus berlangsung tepat di saat Mama berada di rumah sakit. “Belajar yang rajin ya, biar besok bisa ngerjain. Nggak menang juga nggak apa-apa, kok,” kata beliau di antara sakit yang dirasa. Aku semakin menangis.

Sepulang olimpiade, aku langsunng meluncur ke rumah sakit tempat Mama dirawat. Aku memang tidak menang, tapi Mama menyambutku dengan gembira. Diam-diam aku kembali menangis. Ya Allah, sembuhkanlah Mamaku. Lindungi beliau selalu, Ya Allah. Hanya itu yang bisa kuucap dalam hati.

Alhamdulillah, Allah benar-benar melindungi Mama. Esoknya beliau sudah boleh dirawat di rumah, meskipun belum boleh menjalankan aktivitas seperti sebelumnya. Mulai saat itu aku bertekad membuat Mama senantiasa senang berada di dekatku.


SAYANGILAH IBU KITA. BUATLAH BELIAU SENANG TELAH MELAHIRKAN KITA DI DUNIA :’)

Photobucket

making-sweetness Written by Aika

making-sweetness Posted at : 16.57

Bookmark and Share

3 ♥ Comment(s):

  1. salam sahabat
    ehm bagus banget postingnya..tuh mirip banget ama bundanya good luck ya

    BalasHapus
  2. Subhanallah bagus tulisaanya he....

    maju trus...

    BalasHapus

Don't forget to comment this article! Thank you before :)
Follow me at http://twitter.com/DwiKhris and mention me for followback :)